Pemimpin Dunia Penyebab Kegagalan Iklim Dapat Medali dari Greenpeace

543 views

BANGKOK (RiauInfo) – Lebih dari 75 aktivis Greenpeace dari Thailand, Indonesia dan Filipina hari ini menggelar aksi di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Bangkok, mengutuk digagalkannya negosiasi iklim di Kopenhagen oleh beberapa negara yang dipimpin oleh Amerika Serikat.

Dalam aksi ini para aktivis Greenpeace mempersembahkan Piala Karbon Dioksida (CO2) kepada Presiden Amerika Barrack Obama dan medali áib’ kepada Perdana Menteri Kanada Stephen Harper dan Perdana Menteri Australia Kevin Rudd sebagai penanda kegagalan mereka di Kopenhagen.

Dalam perdebatan alot di malam terakhir konferensi iklim, pemerintah Amerika Serikat menyetujui sesuatu yang disebut Copenhagen Accord (Kesepakatan Kopenhagen), yang sampai saat ini masih menjadi deklarasi politik, belum diadopsi menjadi hasil formal konferensi Kopenhagen.

“Copenhagen Accord belum menjadi kesepakatan mengikat bagi jutaan orang seperti yang diharapkan semuanya di pertemuan Kopenhagen, dan harus dilihat sebagai deklarasi politik yang lemah, di saat negara-negara mengetahui bahwa mereka harus menjaga kenaikan temperatur di bawah dua derajat celsius,” ujar Von Hernandez, Direktur Eksekutif Greenpeace Asia Tenggara. Äccord itu merugikan masyarakat Asia Tenggara, kawasan yang paling rentan dan paling tidak siap menghadapi perubahan iklim.“

Accord itu menyebutkan tujuan “menghindari kenaikan temperatur di bawah dua derajat celsius”. Meski demikian, sebuah catatan rahasia dari Sekretariat Konvensi Iklim PBB memperlihatkan bahwa kesepakatan yang diambil negara-negara itu akan menyebabkan kenaikan temperatur hingga tiga derajat celsius, yang melebihi batas aman seperti yang diindikasikan oleh semua penelitian.

Untuk menghindari bencana perubahan iklim, Greenpeace mendesak negara industri maju untuk menurunkan emisi hingga 40% dari level 1990 pada 2020 dan negara-negara berkembang untuk menurunkan emisi mereka hingga 30%.

“Greenpeace mendesak semua negara untuk meneruskan negosiasi menuju kesepakatan yang ambisius, adil dan mengikat di pertemuan Meksiko akhir tahun ini,” ujar Bustar Maitar, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara. “Pekerjaan harus dimulai untuk memenuhi ini. Atau Meksiko beresiko mengulangi kegagalan Kopenhagen.(rls)

Posting Terkait