Parlindungan Kembali Raih Juara Pertama Festival Film DKR 2009

555 views

PEKANBARU (RiauInfo) – Setelah sebelumnya meraih juara pertama di tahun 2005 dan 2006 dan juara ketiga di 2008 pada Festival Film Pendek Dewan Kesenian Riau, kembali di 2009 ini, Parlindungan selaku sineas muda Riau, raih juara pertama ajang serupa di 2009 ini. Film berjudul Hitam itu Aku tersebut berdurasi 20 menit dengan mengambil lokasi syuting di Pekanbaru.

“Minggu malam (8/11) diumumkan dewan juri dari Jakarta di DKR. Ini adalah kebanggan tersendiri bagi saya. Dan prestasi ini adalah yang kesekian kalinya. Mudah-mudahan setelah ini muncul karya film baru yang lebih bagus lagi,” ujar Parlindungan saat dijumpai wartawan, Senin (9/11/2009) di Pekanbaru.

Dalam film ini, Parlindungan sebagai sutradara, pinata lakon, dan kameramen. Kata alumni Program Pascasarjana Universitas Islam Riau ini, film yang dilombakan tersebut adalah film yang disutradarainya ke-25. Menurutnya, dari 25 film tersebut, 15 di antaranya adalah film pendek, 8 film dokumenter dan 2 film durasi panjang.

“Dari 25 film saya ini, 2 di antaranya pernah menjadi nominasi pada festival film pendek di Jakarta tingkat nasional 2007 lalu. Dan beberapa di antaranya pernah ditayangkan di Riau Televisi,” papar pendiri Sanggar Lisendra Dua Terbilang (LDT) UIR ini.

Berbicara soal kru dan pemain dalam film Hitam itu Aku tersebut, kata Parlindungan, dirinya melibatkan kawan-kawan di sanggar Lisendra Dua Terbilang UIR. Sebelum melibatkan pemain setiap film yang ingin digarapnya, Parlindungan selalu melakukan seleksi.

“Kalau pemain film harus dicasting dahulu. Dan soal kru, saya selalu mempertanyakan, sejauh mana komitmen kawan-kawan untuk membantu saya dalam mensukseskan film yang akan diproduksi,” jelasnya.

Uniknya, dari setiap produksi film yang dilakukan Parlindungan dan LDT UIR ini, menggunakan alat seadanya dan dengan anggaran yang seadanya pula. Walaupun terbilang sederhana, tapi dirinya selalu berupaya agar kualitas film, ide cerita, pemain, sampai sinematografinya harus lebih baik dari film-film sebelumnya.

“Saya mengakui, peralatan pendukung syuting sangat sederhana. Paling-paling menggunakan kamera standar saja. Tapi di luar itu, saya tetap konsen agar kualitas film yang saya produksi layak tonton dan memiliki nilai pesan bagi penikmatnya,” tegas pria kelahiran Pekanbaru, 31 Agustus 1980 ini.

Kemudian, menyinggung soal ide cerita, kata Parlindungan, sebahagian besar skenarionya diangkat dari cerpen Parlindungan maupun skenario yang lahir dari fenomena kehidupan masyarakat saat ini. Kemiskinan serta kebijakan politik yang menyengsarakan masyarakat mendominasi setiap film yang dibuat.

“Selain itu, persoalan cinta dan remaja juga ada beberapa film yang dibuat. Biar kesannya film saya itu variatif. Cerita humor juga ada, bahkan pernah meraih juara pertama pada Festival Film Pendek DKR 2005 lalu, berjudul Delapan Tujuh,” jelasnya.

Ke depannya, Parlindungan beserta kawan-kawan seperjuangannya akan memproduksi film panjang Desember 2009 ini. Dengan mengambil lokasi syuting di Kabupaten Bengkalis, kata Parlindungan, ide cerita film ini lebih mengangkat lokalitas Melayu.

“Film ini berjudul Nyanyian Lancang Kuning. Durasinya sekitar 90 menit. Dan kalau tidak ada halangan, akhir November ini saya akan lakukan casting. Casting terbuka bagi umum dan dapat mendaftar ke LDT UIR,” katanya.

Parlindungan berprinsip, setiap tahunnya, minimal dia bisa memproduksi 3-4 film, baik dokumenter, film pendek fiksi, maupun film durasi panjang. Di tahun 2009 ini, dirinya berhasil produksi 4 film. “Mudah-mudahan di tahun yang akan datang bisa melebihi target. Program ini hanyalah mengambil kepuasan diri sebagai media eksplorasi untuk berpikir lebih maju dan membangkitkan dunia perfilman di Riau,” jelas Parlindungan sambil menutup pembicaraan.(ad/rls)

Posting Terkait