MENUJU KAWASAN EKONOMI KHUSUS ‘Riau Baru’ Lumbung Industri Hilir Sawit Indonesia

PROGRAM hilirisasi peningkatan ekonomi sebagai perintisan pembangunan klaster industri sawit nasional, sudah digesa oleh pemerintah pusat sejak 2009 lalu. Industri hilir berbasis pertanian dan oleochemical, ini ternyata Riau terpilih untuk mengembangkan kawasan ekonomi khusus. Ini cikal bakal terciptanya ‘Riau Baru’ menjadi lumbung industri hilir sawit di Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa, pernah menyebut, upaya hilirisasi dilakukan korporasi, ternyata secara tidak langsung turut mendukung agenda pemerintah dalam percepatan dan perluasan ekonomi nasional. Hal ini didasari bahwa Indonesia dikenal sebagai mengekspor Crude Palm Oil (CPO) dalam bentuk bahan mentah mencapai 60-65 persen dari total produksi CPO nasional.Atas motivasi tersebut, maka pemerintah pun mencanangkan program hilirisasi peningkatan ekonomi dengan perintisan pembangunan klaster industri sawit mulai diproses di Sei Mangke Sumut, Maloy di Provinsi Kaltim dan Provinsi Riau di Kuala Enok, Kabupaten Indragiri Hilir dan Pelintung, Kota Dumai. Program ini sesuai Peraturan Presiden tentang Industri Hilir Berbasis Pertanian dan Oleochemical.

“Pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sebagai bagian dari arah pengembangan klaster berbasis sawit. Kebijakan hilirisasi tersebut juga akan diperkuat oleh Masterplan Percepatan Pembangunan dan Perluasan Ekonomi Indonesia (MP3EI),” kata Hatta.

Nah, berpijak dari inilah, Provinsi Riau pun terus melakukan upaya yang sama menciptakan MP3EI untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 8-9 persen per tahun. Tujuannya jelas, yakni mengarahkan pembangunan Indonesia yang dapat menghasilkan produk-produk yang bernilai tambah, mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan didukung infrastruktur yang baik, interkonektivitas antar pusat pertumbuhan, dan teknologi yang tinggi.

Demikian disampaikan Gubernur Riau HM Rusli Zainal MP, saat pencanangan Riau sebagai klaster industri hilir kelapa sawit yang dihadiri Menko Perekonomian, Hatta Rajasa, Menteri Perindustrian, MS Hidayat serta pejabat lain di Kawasan Industri Dumai (KID), Pelitung, Kota Dumai, pada 24 Januari 2010 lalu.

Rusli Zainal pun menyebut secara fisik pembangunan klaster itu masih tahap pekerjaan. Termasuk studi kelayakan (feasibility study), kemudian analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) hingga rencana aksi (action plan).

“Riau dimasukan dalam pembangunan klaster industri hilir kelapa sawit, sehingga Riau dimasukkan dalam koridor ekonomi Sumatera,” kata Rusli.

Untuk itu, tambah Rusli Zainal, Riau akan memprioritas agenda tersebut, namun membutuhkan proses panjang, dari infrastruktur hingga sumber daya manusia. Apalagi pengembangan klaster sawit sebagai rencana aksi revitalisasi industri dan rencana pembangunan jangka menengah, pemerintah Indonesia terus memfokuskan pada tiga strategi pembangunan, yakni sumber daya alam, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dengan potensi kelapa sawit di Riau mencapai 2,6 juta hektar, jelas Rusli, maka jumlah produksi yang didapat sekitar 6 juta ton per tahun, sehingga memberikan kontribusi sekitar 28,2 persen dari total ekspor CPO di Indonesia.

“Untuk itu, revitalisasi di bidang industri dengan melakukan klaster-klaster ekonomi diharapkan menghasilkan nilai tambah yang membawa multi player effect positif bagi pertumbuhan ekonomi,” pungkas Rusli.

Riau ‘Baru’

Pesatnya perkembangan pembangunan Riau di berbagai bidang sejak 5 tahun terakhir membuat Gubernur Riau HM Rusli Zainal berkeinginan kuat untuk mewujudkan ‘Riau Baru’ melalui pencapaian visi Riau 2020.

Kenyataan ini diungkapkannya usai menghadiri pengukuhan Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau. ‘Mewujudkan visi 2020 adalah komitmen kita untuk menuju ‘Riau Baru’.

Riau Baru seperti diusung Gubri, bahwa implementasi perwujudan visi Riau 2020 sebagai perekonomian dan kebudayaan Melayu yang agamis harus dilakukan secara terencana dan konsisten. “Bagaimana mewujudkan visi Riau 2020 secara terencana, konsisten dan terintegrasi. Sehingga apa yang menjadi harapan kita, seperti Riau menjadi pusat perekonomian, pusat kebudayaan Melayu namun betul-betul agamis, ini bisa tercapai,” sebutnya.

Untuk mencapai itu semua, lanjut Gubri, maka spirit dan semangat harus ditumbuhkan di setiap jiwa warga Riau. ”Nah, spirit dan semangat baru itu harus terus kita tumbuhkan. Saya hari ini mengatakan, apa yang sudah dicapai Riau sudah luar bisa berkembangnya. Karena itu ini harus terus pertahankan,” kata Gubri.

Pencapaian tersebut akan dipersembahkan pemerintah kepada masyarakat Riau telah mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak dalam meningkatkan pembangunan di berbagai bidang.
“Jika hari ini kita sudah banyak mendapatkan apresiasi, tidak saja oleh masyarakat Riau, tapi juga dari berbagai pihak, termasuk dari tamu-tamu yang datang. Ini harus kita pertahankan dan kita tingkatkan untuk mencapai ‘Riau Baru’ itu,” katanya.

Wujudkan Kuala Enok-Pelintung Kutup Industri Sawit

BERDIRINYA pabrik industri hilir kelapa sawit merupakan salah satu bentuk perwujudan yang konkrit dari proses hiliriasi di sektor sawit. Tak heran, bila pengembangan klaster industri sawit ini juga didukung oleh Masterplan Percepatan Pembangunan dan Perluasan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

Hal ini disampaikan Gubernur Riau HM Rusli Zainal MP, bahwa pembangunan pabrik tentu diharapkan terciptanya lapangan kerja yang cukup banyak. Bahkan pabrik ini juga harus mampu menciptakan nilai tambah yang cukup signifikan terhadap CPO. Selain itu, dampak multiplier effect (dampak pengganda) dari pengoperasian pabrik ini juga tidak dapat diabaikan.

“Selain meningkatkan produksi dan hasil industri hilir, pengembangan riset dan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia senantiasa diperhatikan agar kreativitas, inovasi dan efisiensi terus berkembang,” terangnya.

Apalagi pengelolaan sumber daya alam dan industri yang berwawasan lingkungan, tambahnya, juga menjadi suatu keharusan. Karena itu, teknologi yang digunakan harus sudah mengadopsi azas kelestarian lingkungan. Dengan demikian, disamping kelestarian produksi, kemaslahatan bumi, laut dan udara pun menjadi terjaga.

“Jika ini terwujud, maka Riau akan menjadi kekuatan industri hilir sawit Indonesia yang patut dibanggakan kelak,” kata Rusli Zainal.

Rusli juga menyebut, hal ini dapat dilakukan dengan lima langkah strategis yang dinilai merupakan poin positif mendukung progres dan mendapat suport pemerintah pusat. Lima langkah strategis tersebut antara lain melakukan pengkajian, pembentukan badan pengelolaan, land clearing, pengembangan infrastruktur dan pengelolaan secara berkelanjutan dengan melibatkan seluruh stakeholder.

Dua kawasan yang merupakan kutub pertumbuhan ekonomi Riau menjadi target pengembangan, yakni Kuala Enok, Kabupaten Indragiri Hilir dan Pelintung Kota Dumai Provinsi Riau. “Program aksi tersebut memiliki nilai positif mendukung pengembangan klaster industri hilir. Ini yang harus digesa bersama SKPD dan seluruh stakeholder terkait,” ujarnya.

Nah, potensi sektor perkebunan sawit sangat vital terhadap perekonomian Riau. Untuk itu Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau ingin mendorong pengembangan kawasan klaster sawit di Riau tersebut.

Selain itu, Riau juga memiliki berbagai potensi yang menarik investasi asing, katanya, terutama di bidang perkebunan kelapa sawit. Potensi tersebut untuk pengembangan klaster sawit juga didukung letak wilayahnya yang strategis, karena berdekatan dengan Malaysia dan Singapura.

Potensi sumber daya alam (SDA) Riau ini juga didukung kebijakan dan strategi pemerintah pusat untuk menopang terwujudnya pengembangan klaster industri sawit di Riau. “Kini, ada sekitar 147 pabrik kelapa sawit (PKS) di Riau, yang menghasilkan tujuh ton sawit per tahun. Jadi Riau memang sangat berpotensi untuk pengembangan klaster sawit. Pemerintah Provinsi Riau, sangat mendukung program ini,” katanya.

Foto Lainnya:

Rizki: