Menpar: Dua Tahun Sudah Kelamaan Untuk Mengalahkan Malaysia

JAKARTA (Riauinfo) – Menteri Pariwisata Arief Yahya menegaskan, dua tahun adalah waktu yang terlalu lama untuk mengalahkan kepariwisataan Malaysia. Harusnya bisa lebih cepat lagi sehingga tidak sampai 2 tahun kepariwisataan Indonesia sudah bisa membuktikan unggul dibandingkan Malaysia.

“Saya menilai 2 tahun itu kelamaan kalau hanya untukmengalahkan kepariwisataan Malaysia. Kita harus terus semangat, kerja keras, sehingga kepariwisataan Indonesia akan lebih baik dari negara lain,” ujar Menpar menjawab pertanyaan “Riau Info” dalam jumpa pers seusai Rakornas Perguruan Tinggi Penyelenggara Pendidikan Kepariwisataan di Marlynn Park Hotel, Jakarta, Selasa (24/11).

Menurut mantan CEO Telkom itu, untuk melihat penampilan kepariwisataan Indonesia lebih baik dari negara lainnya di kawasan ASEAN, berbagai hal telah dan akan terus dilakukan, diantaranya adalah gencar mempromosikan Wonderful Indonesia ke berbagai negara, termasuk Malaysia. Selain itu, Indonesia juga gencar mengikuti berbagai event kepariwisataan di luar negeri, termasuk baru-baru ini mengikuti ajang perebutan World Halal Travel Awards 2015 Uni Emirat Arab.

“Khusus dari ajang World Travel Halal Awards 2015 itu, Indonesia beruntung memboyong 3 gelar bergengsi. Salah satunya diperoleh Hotel Sofyan Jakarta yang telah lama menerapkan pelayanan hotel syariah, kemudian dua gelar lain diperoleh daerah Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sementara Malaysia yang juga mengikuti ajang tersebut tidak mendapat apa-apa…” ujar Menpar.

Ia menambahkan, saat ini kepariwisataan Indonesia masih dibawah Malaysia. Bahkan kepariwisataan Indonesia menduduki urutan ke-5 di Asean. Tertinggi prestasi kepariwisataannya adalah Singapura, kemudian Thailand, disusul Malaysia dan Philipina. Sekalipun di urutan ke-5, karena semangat yang tinggi untuk memajukan kepariwisataan Indonesia, Menpar sangat yakin, kepariwisataan Indonesia dalam tempo yang tidak terlalu lama akan berubah menjadi yang terbaik, setidaknya kurang dari 2 tahun bisa mengalahkan Malaysia.

Sektor SDM kepariwisataan, juga mendapat perhatian serius Menpar, sehingga digelarlah Rakornas Perguruan Tinggi Penyelenggara Pendidikan Kepariwisataan. Rakornas tersebut diikuti 107 perguruan tinggi penyelenggara pendidikan kepariwisataan dari seluruh Indonesia. Menpar menilai Rakornas itu amat penting dalam rangka menghadapi tantangan berat berupa persaingan yangketat, termasuk dalam mencetak kualitas SDM pariwisata di kawasan ASEAN. Hal itu terkait dengan mulai diberlakukannya MEA yang akan menerapkan ACCSTP (ASEAN Common Competency Standards for Tourism Professionals) yang mengacu pada SKKNI Indonesia.

Penyelenggaraan Rakornas bertema “Peningkatan Kualitas Pendidikan Tinggi Pariwisata yang berstandar Internasional” itudiharapkan sebagai momentum kebangkitan dalam menyamakan persepsi seluruh perguruan tinggi penyelenggara pendidikan pariwisata untuk meningkatkan kualitas SDM bidang kepariwisataan. Pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan kualitas SDM yang diwujudkan dalam bentuk pelatihan dasar kepariwisataan dan sertifikasi yang tahun ini ditargetkian sebanyak 17.500 tenaga kerja pariwisata dan akan terus naik menjadi 35.000 sertifikasi pada 2016 mendatang.

Menpar juga mengemukakan, mampu mengalahkan kepariwisataan Malaysia karena kepariwisataan Indonesia mempunyai prospek yang cerah. Hal itu setidaknya terlihat dari tren sektor jasa penghasil devisa bagi negara yang poertumbuhannya terus meningkat. Bila saat ini sektor pariwisata sebagai penghasil devisa terbesar masih berada di urutan ke-4 setelah Migas, batubara, kelapa sawit, kedepan diproyeksikan berada pada urutan pertama, mengalahkan sektor migas dan batubara yang diperkirakan akan mengalami penurunan karena sifatnya yang tidak bisa diperbarui.

“Oleh karena itu, Presiden Joko Widodo telah menetapkan target pariwisata naik dua kali lipat dalam 5 tahun ke depan. Bila tahun ini kita akan meraih 10 juta wisman dengan perolehan devisa sekitar US$ 11 miliar, akhir 2019 mendatang akan naik menjadi 20 juta wisman dengan perolehan devisa US$ 22 miliar atau setara dengan Rp 280 triliun,” kata Menpar. (Ami Herman)

Adrizas: