Menilik Kembali Peran ASEAN Bagi Negara-negara Asia Tenggara

807 views

YOGYAKARTA (RiauInfo) – Agenda kegiatan seminar internasional Indonesia-Malaysia Update 2008 yang melibatkan para akademisi dari dua universitas ternama di Indonesia dan Malaysia, yakni Universitas gadjah Mada [UGM] dan Universiti Malaya [UM], ini dibagi ke dalam lima klaster.

Salah satunya ialah Politik dan Diplomasi. Dalam klaster ini, pembicara terdiri dari empat orang, yakni Wawan Mas‘udi, MPA [pengajar jurusan Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmus Sosial dan Ilmu Politik, UGM], Ririn Tri Nurhayati, Helena M. Varkkey [ahli politik internasional, UM], dan Irwan Lahnisafitra, ST., MT. Sementara itu, Hanafi Rais berlaku sebagai moderator diskusi.

Pada sesi pertama, diskusi yang diadakan di ruang Sidang A Gedung Pascasarjana UGM tersebut dihadiri sekitar 40 peserta. Hanafi Rais, membuka agenda diskusi dengan sedikit mewacanakan kondisi terkini politik di kedua negara, Malaysia dan Indonesia. Lantaran waktu diskusi yang sudah terlambat 30 menit dari jadwal semula, ia segera mempersilakan pembicara pertama untuk memberikan presentasinya.

Dalam kesempatan pertama ini, Wawan Mas‘udi yang mengambil judul “Ide Supranasional Tanpa Basis Politik: ASEAN dan Definisi Demokrasi” berbicara tentang bagaimana ASEAN hingga saat ini tidak memberikan kontribusi berarti terhadap persoalan-persoalan sosial dan politik di Asia Tenggara.

Ternyata, menurutnya, ada beberapa permasalahan yang menjadi penyebab. Salah satunya ialah karena keperluan-keperluan masyarakat Asia Tenggara tidak diperhatikan dalam pengambilan keputusan-keputusan politis di dalam organisasi ASEAN.

Oleh karenanya, kebijakan-kebijakan regional Asia Tenggara yang lahir melalui organisasi ini akhirnya lebih bersifat elitis. Ini juga disebabkan lantaran para elite ASEAN kurang menyadari bahwa sangat penting untuk menerapkan pola-pola pengelolaan kelembagaan yang demokratis.

“Bila tidak, nasib ASEAN akan seperti EU [European Unity—red] di mana terobosan organisasi ini sangat kuat pada aspek ekonominya, namun kebijakan-kebijakan yang dilahirkan kurang mengena pada persoalan-persoalan masyarakat kecil di Eropa,” ia mencontohkan.

Kemudian, pembicara kedua, Ririn Tri Nurhayati, lebih menyoroti ASEAN pada permasalahan model-model hukum yang diaplikasikan ke dalam pembangunan kerjasama antarnegara di Asia Tenggara. Dalam makalahnya yang berjudul “Politik Hukum Kerjasama ASEAN”, Ririn menganalisa bahwa ada persoalan pada beberapa proses legalisasi pelbagai keputusan politik di dalam organisasi ASEAN. Sebagai contoh ialah diberlakukannya model soft-law.

Baginya, model ini memiliki kelemahan di sana-sini. Sedangkan pada model yang ia tawarkan, model hard-law, juga masih banyak kekurangan. Kendati demikian, model hard-law ini lah yang lebih relevan dan tepat bagi organisasi seperti ASEAN karena alasan-alasan tertentu.

Selanjutnya, sebagai satu-satunya wakil dari Univesiti Malaya, Helena M. Varkkey mempresentasikan kertas-kerja bertajuk “Indonesia, ASEAN, and Non-Intervention: Sovereignity, Decentralization and Regional Leadership Issues in the Management of the Southeast Asian Haze.” Penekanannya dalam diskusi kali ini ialah pada pengelolaan segala potensi kerusakan lingkungan yang dapat mengganggu kenyamanan kehidupan sehari-hari negara tentangga oleh ASEAN.

Ia mencontohkan bagaimana masyarakat Malaysia dan Singapura yang dari tahun ke tahun selalu ‘mengimpor‘ polusi udara berupa asap tebal. Asap ini merupakan akibat dari terbakarnya hutan di Kalimantan, Riau, Jambi, dan kawasan lainnya. Sebagai upaya penanggulangan berbagai dampak sosial maupun politik yang lebih luas, ASEAN sebagai representasi Asia Tenggara harusnya mampu menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut secara tuntas.

Berbeda dengan pembicara-pembicara sebelumnya, Irwan Lahnisafitra sebagai pembicara terakhir mengungkapkan studinya dengan kasus yang lebih spesifik. Ia menyuguhkan “Pentingnya Kerjasama Sosial Ekonomi dan Kaitannya dengan Pertumbuhan Ekonomi Sub Regional ASEAN: Studi Kerjasama Sosek Malindo Tingkat Daerah Kalbar-Serawak.” Lantaran waktu yang sudah mepet dengan lunch break, ia kurang banyak mendapat waktu untuk mengemukakan gagasannya.

Begitu pula dengan diskusi yang harusnya bisa berjalan lama dan menarik. Ketidaktepatan pelaksanaan acara ini oleh panitia, membuat diskusi menjadi tergesa-gesa dan kurang menarik. Di penghujung acara, Hanafi Rais menutup sesi pertama klaster Politik dan Diplomasi ini dengan simpulan yang sederhana.(ad/rls)

Posting Terkait