KUNJUNGAN NUS KE BKPBM Penguatan Relasi dan Komunikasi Melayu Serumpun

613 views
news9905PEKANBARU (RiauInfo) – Demi memperkuat ikatan silaturahmi antarbangsa Melayu serumpun, serta untuk memperbesar kesempatan semakin dibukanya hubungan relasi yang setara, bermartabat, dan bermanfaat, delegasi dari Department of Malay Studies, National University of Singapore (NUS) yang dipimpin Prof. Dr. Syed Farid Alatas, mengadakan kunjungan ke Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), Yogyakarta, Kamis (25/6).

Kunjungan Syed Farid Alatas dan rombongan disambut oleh Pemangku BKPBM, Mahyudin Al Mudra, S.H., M.M., Dr. Arif Aris Mundayat (Direktur PSSAT-UGM sekaligus Konsultan BKPBM), Yuhastina Sinaro, SST.Par (Public Relations BKPBM), Afthonul Afif, M.A. (Wakil Pemimpin Redaksi MelayuOnline.com), Lukman Sholihin, S.Ant. (WisataMelayu.com), Ahmad Salehudin, M.A. (RajaAliHaji.com), serta Samsuni, M.A. (CeritaRakyatNusantara.com), bersama segenap redaktur dan kru BKPBM.
Hadir pula Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan (Fisipol – UGM), Dr. Phil. Hermin Indah Wahyuni, M.Si, para mahasiswa Riau yang sedang menempuh studi di Yogyakarta, serta dari kalangan peminat budaya Melayu.

Acara yang terlaksana berkat kerjasama antara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol – UGM), BKPBM, Pusat Studi Sosial Asia Tenggara, Universitas Gadjah Mada (PSSAT-UGM), dan NUS ini dimulai pada pukul 14.00 WIB, setelah sebelumnya para delegasi NUS diajak berkeliling untuk melihat suasana kerja para kru BKPBM. Selaku tuan rumah, Mahyudin Al Mudra menyatakan kegembiraannya dan menyematkan penghargaan setinggi-tingginya kepada Syed Farid Alatas beserta rombongan dari NUS karena berkenan mengunjungi BKPBM.

Harapan Mahyudin, kunjungan ini bukanlah yang pertama dan terakhir, namun akan ditindaklanjuti dengan jalinan kerjasama yang lebih nyata dan berfaedah. Selain itu, Pemangku BKPBM juga berharap, Syed Farid Alatas berkenan turut menyokong secara aktif agenda dan kegiatan yang dilakukan BKPBM, khususnya yang terjejak melalui situs www.melayuonline.com. Dengan terselenggaranya acara yang dikemas dalam FGD (Focus Group Discussion) ini, Mahyudin berharap akan saling memberikan manfaat kepada semua pihak.

Syed Farid Alatas menyambut baik ajakan Pemangku BKPBM dengan membuka pintu lebar-lebar agar jalinan silaturahmi dan relasi antara akademisi Indonesia dan Singapura tetap terjaga. Syed Farid Alatas juga menyatakan akan memaksimalkan peluang untuk menindaklanjuti dan membuka rekanan dalam bidang kajian serta penelitian, antara Singapura dan Indonesia.

Pasalnya, menurut Syed Farid Alatas, selama ini kaum akademisi Indonesia lebih banyak berhubungan dan melakukan kerjasama dengan instansi-instansi pendidikan dari Australia. Syed Farid Alatas menyatakan harapan supaya kunjungannya beserta rombongan akan membuahkan hasil yang baik untuk memperkuat harmonisasi di antara bangsa Melayu serumpun.

Dalam kesempatan ini, Syed Farid Alatas juga menjelaskan tentang Department of Malay Studies, khususnya mengenai Jabatan Pengajian Melayu (Jurusan Kajian Melayu) di University of Singapore. Jurusan yang dibentuk sejak 1952 ini bertujuan untuk mendalami pengetahuan, pengajaran, dan penyelidikan tentang alam Melayu secara luas.

Alam Melayu yang ditinjau meliputi Singapura, Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, serta Thailand dan Filipina bagian selatan. Di samping itu, akan dikaji juga tempat-tempat yang mempunyai komunitas diaspora Melayu, seperti Suriname, Srilanka, Madagaskar, hingga Afrika Selatan. Pemaknaan alam Melayu yang dianut Jabatan Pengajian Melayu ini tentunya sepaham dengan apa yang diikhtiarkan BKPBM melalui www.melayuonline.com untuk mewujudkan alam Melayu serumpun yang setara dan bermartabat.

Direktur PSSAT, Dr. Arif Aris Mundayat, menyambut baik terselenggaranya perhelatan antar dua bangsa serumpun ini dan menyatakan harapannya agar pertemuan ini bisa dijadikan salah satu pijakan dalam upaya membendung arus Eurosentrisme yang sudah sekian lama menghegemoni paradigma publik dalam mengkaji hal-ihwal kemelayuan.

Dengan berlangsungnya tindakan komunikasi dan relasi yang erat serta persatuan bangsa-bangsa Melayu serumpun, besar harapan untuk perlahan-lahan dapat mengubah cara pandang publik, termasuk orang Melayu sendiri, dalam menilai kajian tentang Melayu. Orang Melayu harus bisa melepaskan diri dari bayang-bayang perspektif Eurosentris dan mulai membiasakan diri untuk melihat Melayu dari kacamata orang Melayu sendiri.(ad/rls)

Posting Terkait