Kampung Zapin Ada di Bengkalis

743 views
news4039JAKARTA (RiauInfo) – Ketua Dewan Kesenian Bengkalis (DKB), H Riza Pahlefi mengatakan, tanpa bermaksud memposisikan diri sebagai negeri asal muasal, Kabupaten Bengkalis merupakan sebuah negeri di Pesisir Timur Sumatera yang senantiasa berupaya menghidupkan Zapin. Zapin merupakan tarian yang sudah menyusup dalam sendi-sendi kehidupan masyarakatnya.

“Zapin bagi masyarakat Bengkalis benar-benar sudah menjadi jati diri. Menjadi bagian dari nilai-nilai kehidupan mereka. Zapin benar-benar hidup dan berkembang semarak hingga ke ceruk-ceruk negeri,” terang Riza.

Hal itu dikemukakan Riza dalam orasi budayanya. Orasi itu disampaikan Ketua DPRD kabupaten berjuluk Negeri Junjungan ini pada malam puncak Semarak Negeri Zapin (SNZ) yang ditaja Yayasan Panggung Melayu (YPM) Depok di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (18/2) malam lalu.

Di katakana Riza, di Bengkalis, di tengah riauh rendahnya aktivitas masyarakatnya, Zapin berkembang secara alami. Tanpa memandang umur, di setiap kampung dan dusun, denting dawai dan gambus, bertingkah pukulan marwas, senantiasa mengiringi gerak lincah kaki-kaki menarikan Zapin.

Seni yang dulunya di masa kegemilangan imperium Melayu hanya ditarikan di kalangan istana yang terbatas, hari ini, kata Riza, berbaur menyatu di tengah-tengah masyarakat. Tidak lagi nampak nilai-nilai eksklusifitas kesenian ini.

Semua seakan menyatu dan menjadi identitas bagi penari yang jelas-jelas bukan merupakan orang-orang istana. Setelah melewati proses akulturasi, Zapin kini lahir menjadi salah satu ikon budaya Melayu.

“Zapin mewakili seni yang penuh dengan kehalusan, kelembutan dan lirik terpilih yang membincangkan kearifan. Gerakan yang mengulang harmonis, bias membangun kontemplasi,” terang Riza seraya mengatakan kunci untuk menikmati dan menari zapin itu hati. “Jadi, Zapin itu semacan taman hati nurani,” imbuhnya.

Ditambahkan Riza, dengan tidak menghilangkan asal muasal kesenian ini, Bengkalis merupakan sebuah negeri yang telah ‘jatuh hati’ terhadap tradisi Zapin.

Karena itu senantiasa memberikan sesuatu yang baru dan berupaya menjadi tempat yang menyenangkan bagi tumbuh dan berkembangnya tradisi ini. Upaya kearah itu, terus dilakukan dengan dukungan penuh Pemerintah Kabupaten Bengkalis

“Sehingga, dalam proses kreativitas seni Zapin, Bengkalis telah melakukan dan merancang beberapa kegiatan yang bersifat nasional dan internasional untuk membawa Zapin ke sebuah tempat yang terhormat dalam kebudayaan Melayu,” ungkap Riza sebagaimana dikutip Kabag Humas Pemkab Bengkalis, Johansyah Syafri yang juga hadir dalam malam puncak SNZ itu.

Masih menurut Riza, disamping upaya pembentukan kegiatan yang berfungsi sebagai wadah saling belajar dan mengukur kemampuan kreasi, upaya pembinaan secara berkelanjutan juta terus dilakukan. Pembinaan yang dilakukan, katanya tidaklah sulit, karena keinginan tersebut memang telah tumbuh di hati masyarakat yang ada di Bengkalis.

“Karena itu, harapan yang terkandung adalah Bengkalis dapat menjadi sebuah laman bermain yang besar bagi warisan yang bernama Zapin.Laman untuk memperkukuh jati diri. Sehingga, dari Handramaut (Yaman), ianya datang, Zapin benar-benar dapat berkampung di Bengkalis,” harap Riza.

Apa yang dikemukakan Riza itu, dibenarkan budayawan dan pemerhati budaya Melayu dari Universitas Indonesia, Maman S Mahayana. Dalam orasi budayanya dengan tajuk ‘Bengkalis Negeri Zapin’ yang juga disampaikannya malam itu.

Maman mengatakan, jika datang ke Bengkalis dan bertanya tentang Zapin, maka siapapun warga masyarakat akan menjawabnya enteng saja. Seperti orang yang mewartakan identitasnya secara panjang lebar dan lengkap.

“Antusiasme”. Itulah kesimpulan yang akan kita peroleh ketika pertanyaan tentang Zapin jatuh di Bengkalis. Zapin bagi masyarakat Bengkalis, adalah denyut nadi dinamika kehidupan mereka. Maka, bagi masyarakat Bengkalis, tidak mengenal Zapin dan tidak memahami dinamikanya, adalah sesuatu yang sungguh keterlaluan.(ad/rls)

 

Posting Terkait