GUBERNUR HM RUSLI ZAINAL, Surat Dari Sahabat

574 views

Walau saat ini RZ berada dalam tahanan KPK Jakarta, tapi RZ menyempatkan diri menulis surat tentang kehidupannya saat ini, tentang rasa syukurnya, tentang kedamaian hati yang saat imi diraihnya.

Berikut ini petikan surat dari RZ yang sedang tersangkut kasus dugaan suap PON yang diterima awak media, Senin (30/9/2013).

Surat Dari Sahabat

Tak terasa, sudah lebih 3 bulan lamanya. Dari merdeka mendadak berada di balik tempat bernama penjara. Inilah sesungguhnya perang ‘Badar’ bagiku. Dimana ada sakit yang begitu dahsyat dan ada pemberontakan batin yang begitu kuat menuntut sedikit pembelaan atas nama menegakkan perubahan. Tapi aku sadar ini belum waktuku. Ada fase yang harus aku lalui yakni ujian, perjuangan dan juga pengorbanan. Aku anggap ini sebagai ladang amal dengan bentuk yang berbeda.

Alhamdulillah selalu ada hikmah yang luar biasa di balik musibah. Pada masa-masa seperti ini aku semakin bersyukur menjadi hamba yang tidak kehilangan cinta Allah Swt dan juga cinta orang-orang terdekat. Meski ditengah keterbatasan, aku tetap merasakan kedamaian hati yang luar biasa.

Keluarga, sahabat, kerabat, rekan sejawat bahkan rakyat yang sebelumnya mungkin tidak pernah berjumpa ditengah padatnya melaksanakan tanggungjawab, justru rela mengunjungiku kini walau hanya bisa bertemu sesaat saja. Aku diberikan senyum, dukungan, kata penyemangat bahkan ada yang cuma datang mengantarkan tangis keharuan melihat kondisiku. Lagi-lagi aku hanya bisa ucapkan Alhamdulillah, semua cinta yang tulus ikhlas itu telah menjadikan hatiku setegar karang melalui semua cobaan ini.

Dalam keterbatasan gerak, justru kini jadi punya banyak waktu untuk menyelesaikan bacaan Al Quran, sholat malam, memperbanyak intropeksi diri dan punya waktu mengungkapkan isi hati melalui tulisan. Aku bisa meluangkan waktu untuk membaca, bercerita bukan soal setumpuk kerja atau sekedar istrirahat cukup sepanjang hari. Setelah hampir hampir 15 tahun mengurus pemerintahan, barulah tersadar betapa langkanya bisa melakukan hal-hal kecil seperti ini. Karena biasanya harus bekerja dan bekerja dari pagi lalu ketemu pagi lagi.

Diantara banyak buku dan kiriman yang datang padaku, ada sebuah surat dari seorang sahabatku di Jakarta. Isi suratnya begitu sederhana, namun bagiku menjadi penyemangat luar biasa. Rangkaian pesannya mampu membawaku pada tingkat kesadaran dan tafakur diri sebagai seorang hamba Tuhan.

Aku ingin menulis ulang surat sahabatku itu. Dalam suratnya, sahabatku itu menuliskan begini:

Kini ada batasan untuk sekedar berdiskusi atau sekedar mendengar uraianmu tentang mimpi-mimpi besar membangun tanah kelahiranmu di sana. Meski pada setiap orang yang mengunjungi selalu ada senyum dan ketegaran yang coba kamu perlihatkan, aku tahu di sana ada keresahan, gundah, gelisah dan air mata yang coba kamu sembunyikan. Ketegaranmu itu telah menjadi inspirasi, menjadi kekuataan dan keyakinan, bahwa akan ada suatu hari nanti yang jauh lebih indah dari hari ini.

Mengabarkan sejuta kata dan bahasa tentang hatimu pada tanah lahir kita itu, mungkin tak akan cukup membuka mata hati mereka. Tapi percayalah, suatu ketika kelak, namamu akan dikenang menjadi bayang kebangkitan yang tak akan lekang berganti zaman. Cerita kebaikan hati itu akan terus mengalir menjadi pikir dan dzikir.

Selalulah ingat kisah para ash-habul ukhdud, yang memberikan pelajaran penting tentang makna sebuah pengorbanan untuk meraih sebuah kemenangan. Mereka terbuang dari kaumnya namun dengan keimanan yang mereka punya dan atas restu Tuhan, diangkat kembali derajat mereka jauh lebih tinggi dari semula.

Ingatlah pula kisah proklamator kita Presiden Soekarno. Dari Balik tembok penjara, Soekarno menulis sebuah pledoi (Pidato pembelaan) yang diberi nama ‘Indonesia Menggugat’. Pledoi ini kemudian dibacakan di Gedung landraad (pengadilan rendah) pemerintah kolonial Belanda di Bandung. Pengalaman sebagai orator ulung membuat Soekarno mampu mengubah sidang yang semula diniatkan pemerintah Belanda untuk menjatuhkan Soekarno menjadi seperti rapat umum dimana Soekarno seolah menjadi bintangnya.

Jika bukan karena dipenjara, Buya HAMKA mungkin tak akan pernah bisa mengguncang dunia dengan Tafsir Al-Azhar yang ditulisnya. Tafsir itu kemudian mengaitkan sosoknya dengan tokoh besar dunia sekelas Sayyid Quthb. Tafsir itu lahir di penjara. Bahkan, Buya HAMKA pernah berterima kasih secara khusus kepada pemerintah yang telah memenjarakannya.

Hal yang sama pula dialami oleh Tan Malaka. Tokoh besar dalam sejarah revolusi kemerdekaan Indonesia ini, juga melahirkan ide-ide besar perubahan negeri kita ini, dari tulisan-tulisan yang dibuatnya dari balik jeruji besi.

Lalu sahabatku, kamu pasti tahu dengan nama Nelson Mandela. Tokoh kulit hitam ini menjadi sosok paling popular di antara banyaknya tokoh politik dan negarawan dunia yang pernah menjadi narapidana. Nelson Mandela merupakan tokoh aktivis anti-apartheid, pemisahan hak antara orang kulit putih dan pribumi, di Afrika Selatan.

Aktivitas politik dan idealismenya sebagai putra Afrika Selatan mengantarnya untuk mendekam di dalam jeruji besi pada 1964. Selama masa penahanannya Nelson mengalami berbagai hukuman mulai dari budak pekerja dan tidak diperbolehkan berhubungan dengan dunia luar.

Setelah menjalani masa tahanan selama 27 tahun dan namanya semakin popular di saat dia menjalani masa tahanan. Mandela kemudian dibebaskan pada 1990 dan berhasil menghapuskan politik apartheid di Afrika Selatan melalui sebuah negoisasi.

Dia kemudian terpilih sebagai presiden Afrika Selatan periode 1994-1999, dan meninggalkan idealisme militansinya. Dia banyak melakukan upaya rekonsiliasi dan membuat undang-undang serta peraturan untuk mencegah kemiskinan dan ketidakadilan di negerinya. Hingga hari ini, di sisa akhir hidupnya, dunia tetap memuja.

Dan Sahabatku, aku yakin kamu pasti akan jauh lebih hebat dari seorang Nawal El Saadawi. Seorang perempuan Mesir, yang menulis ‘Memoar dari Perempuan Penjara’ dan tulisan-tulisannya mengubah pandangan dunia tentang wanita. Ia dipenjara sejak tahun 1981 oleh rezim Anwar Sadat. Bayangkan, ia menulis dengan kertas toilet dan pensil alis. Buku karyanya, Live from Death Row dan All things Censored, pernah disetarakan dengan Letter from Birmingham Jail karya Marthin Luher king Jr. Keduanya lahir dari penjara.

Sahabatku,
Sungguh di sini bukan tempatmu. Tapi percayalah, Tuhan pemilik segala rencana. Tuhan pula sutradara terbaik di seluruh jagat semesta. Aku mengajakmu berprasangka baik pada sang Khalik. Ia sedang menatapmu, menguji hatimu, karena TUHAN yakin kamu mampu untuk itu.

Meski kini rumah kediamanmu sebagai pemimpin tak bisa lagi menerima tamu, percayalah bahwa tamu-tamu itu akan selalu datang dimanapun kamu berada. Mereka akan mengunjungimu dengan penuh kerinduan, kekaguman dan rasa cinta yang besar pada sosokmu. Mereka akan meluruhkan dukamu, maka tersenyumlah selalu dan jangan menyerah kalah. Ini hanya hukum manusia, yang tak akan memisahkan cinta rakyatmu dengan dirimu, meski harus terhalang ribuan mil jaraknya.

Jadi Sahabatku, selalulah percaya bahwa ribuan doa sedang menderu mengarah padamu. Insyallah suatu ketika kelak, kamu akan kembali pada kami, pada negeri yang telah kau bangkitkan meski bermula dari banyak mimpi-mimpi. Tetaplah menjadi pribadi yang tegar.

Surat ini berkali-kali kubaca, berkali-kali pula menghadirkan kekuatan luar biasa. Pada sahabatku itu, perlu disampaikan bahwa aku bukanlah sosok sehebat Tan Malaka Presiden Soekarno, Buya HAMKA, Nelson Mandela ataupun Nawal El Saadawi. Aku hanya seorang Rusli Zainal. Anak kampung yang punya mimpi menghadirkan perubahan besar di tanah kelahirannya. Sebagian mimpi itu sudah ada yang terwujud, meski yang sebagian lagi masih terpendam. Semoga kelak, lahir pemimpin-pemimpin hebat di tanah Melayu-Riau, melanjutkan perjuangan dan melanjutkan pembangunan untuk kesejahteraan rakyat. Semoga. (*)

Posting Terkait