FEBY BONAPARTE Novelis Belia Riau, Ingin Kalahkan Kahlil Gibran

1248 views

JAKARTA (RiauInfo) – Usianya masih belia, tapi ambisinya melangit dan luar biasa. Pria kelahiran Pekanbaru, 18 Desember 1985 bernama Feby Bonaparte memiliki ambisi untuk mengalahkan pujangga dunia, guru dan inspiratornya Kahlil Gibran.


Feby menilai Khalil Gibran adalah penulis yang sangat jenius. Kata-kata yang dibuatnya bukan saja sangat indah, bermakna dan menyentuh tapi juga memiliki pemahaman yang sangat dalam akan kehidupan atau seperti filsafat.

“Saya ingin menjadi Kahlil Gibran sekaligus mengalahkannya, “ ujar Feby , saat ditemui disela-sela acara berbuka puasa di anjungan Riau Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Ahad (21/8) malam.

Feby mengaku baru saja menulis Novel berjudul “Pelangi Berkerudungkan Awan” (PBA). Selain merupakan novel terobosan baru atau pertama kali dalam kesusatraan dan perkembangan novel Indonesia, karya yang dibuatnya juga memuat banyak nilai-nilai positif, pemikiran kritis atau pemahaman akan kehidupan sosial juga cinta dan kebenaran sejati.

“PBA merupakan salah satu novel yang paling banyak menyita energi, penghayatan dan perasaan terdalam saya. Novel ini saya kerjakan dengan tetesan air mata dan keempatian terdalam, “ ujar Andi yang juga belajar banyak dari karya Idrus Tintin.

Novel sastra cinta yang dibuatnya, memiliki keunggulan berbeda dengan isi novel kebanyakan. Selain ceritanya seru dan tidak mudah ditebak, bertaburan puisi elegan, bermakna, romantic, melankolis dan menyentuh perasaan. Pelangi Berkerudungkan Awan merupakan salah satu novel yang paling banyak menyita energi, penghayatan dan perasaan terdalam saya. Novel ini saya kerjakan dengan tetesan air mata dan keempatian terdalam.

“Pembaca baru akan bisa menyimpulkan setelah membaca sampai bab 19 dari total 20 Bab yang ada di Novel itu, “ ujar Febi.

Tanpa bermaksud jumawa, Febi mengaku buku setebal 402 halaman yang telah diluncurkan dua bulan silam itu telah ludes terjual sebanyak 1500 eksemplar. Saat ini sedang disiapkan edisi cetakan kedua direncanakan sebanyak 3000 eksemplar oleh penerbit Pyramedia dari Bantul, Daerah Istimwa Yogyakarta.
Disayangkan sekali, novel itu hanya bisa dinikmati oleh para pecinta Novel di wilayah Pulau Jawa, khususnya di Toko Buku Gramedia dan Gunung Agung. “Dari setiap buku saya hanya dapat royalti 10 persen, “ katanya.

Ingin Mengangkat Sastra Melayu Riau

Menurut Alumni Diploma III FISIP Universitas Padjajaran Bandung, Jawa Barat itu, PBA adalah sebuah naskah yang telah diselesaikan pada tahun 2004 bersama bersama dua novel lainnya. Proses revisinya dimulai ketika dirinya ingin menerbitkan semua karya-karya sekitar akhir tahun 2009.

“Proses revisi itu bermula dari kota Bandung lalu berlanjut ke Jakarta, Jogja dan akhirnya kembali ke Bandung. Proses pengerjaan yang berpindah dari satu kota ke kota yang lain, saya lakukan untuk mendapatkan energi baru, inspirasi sekaligus menghilangkan kejenuhan, “ ujar bungsu dari tiga bersaudara dari pasangan Hj. Rasimi Jabar dan Yahya Daili Mutiara itu

Melalui media novel, Febi berujar ingin mengangangkat sastra Melayu Riau dan memberikan corak baru, bukan hanya di Riau saja, tapi sastra secara keseluruhan. “Lewat Novel PBA ini, saya juga ingin mengangkat martabat masyarakat Riau dan bangsa Indonesia di dunia Internasional, “ ujarnya.

Dalam kesempatan acara di TMII, Feby juga telah menyerah secara langsung novel PBA kepada Gubri, yang menyambut secara positif karya yang dibuat dalam waktu singkat tiga bulan. Feby mengaku senang atas apresiasi dan perhatian Gubri tersebut.

Namun demikian untuk menyelesaikan dua karya yang telah dibuatnya itu, Febi mengakui kesulitan dana. Perhatian dan uluran dana sangat dibutuhkan untuk menuntaskan dua karya fiksinya yang telah hampir siap terbit. Satu Novel berikutnya telah diberi judul Kegelapan Cinta Dikelamnya setebal 300-an halaman.

“Saya membutuhkan bantuan Pemprov Riau karena kekurangan beaya untuk menuntaskan dua karya berikutnya, “ ujar Feby yang didunia jejaring sosial facebook menggunakan nama samaran Bunga Sastra Pertiwi dan Sastra Cinta.

Melihat potensi penulis belia yang memiliki itikad mulia tersebut, dan agar Riau tak kehilangan penulis andal sastra Melayu di masa depan, sangat disayangkan apabila karya Feby ini sampai luput dari perhatian Pemprov Riau. Setelah cetakan pertamanya hanya bisa dinikmati oleh pemerhati novel di pulau Jawa, hendaknya di cetakan kedua dan seterusnya karya Feby bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat Riau dan Sumatera umumnya.(ad/rls)

Posting Terkait