DINAMIKA RELASI MELAYU-JAWA Workshop Internasional II UNS-UGM-UKM di Solo

922 views

SOLO (RiauInfo) – Sesi kedua Workshop Internasional “Pemikiran Melayu-Jawa” yang diadakan oleh tiga serangkai antara bangsa, yaitu Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (UNS), Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, dan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) berlangsung meriah.

Acara yang digelar di Fakultas Sastra dan Seni Rupa, UNS itu, menghadirkan empat pembentang kertas kerja antara lain Prof Dr Kunardi H MPd dari UNS-Surakarta, Prof Madya Dr Misran Rokimin dari Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA) UKM-Malaysia, Dr Aris Arif Mundayat dari Pusat Studi Sosial Asia Tenggara (PSSAT) UGM-Yogyakarta, serta Mahyudin Al Mudra SH MM dari Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Yogyakarta. Bertindak sebagai moderator adalah Drs Hendrokumoro M Hum.

Penyajian paper dimulai oleh Prof Kunardi H Mpd dari Program Pascasarjana UNS yang membawakan tajuk “Keroncong Jawa”. Dalam penjelasannya, Kunardi menyampaikan dengan runtut tentang musik keroncong Jawa. Kunardi membagi musik keroncong menjadi tiga jenis, yakni keroncong, langgam keroncong, dan stambul dua.

Selain itu, Prof Kunardi juga merincikan poin-poin terpenting dalam kesenian musik keroncong, khususnya keroncong Jawa, termasuk instrumen pengiring lagu keroncong, jenis-jenis langgam keroncong Jawa, serta bagaimana strategi mengembangkan keroncong Jawa. Poin yang terakhir ini cukup dicermati mengingat popularitas musik keroncong, terutama di kalangan anak muda yang semakin merosot, bahkan terancam punah karena terhambatnya proses regenerasi.

Kunardi memberi alternatif solusi dalam upaya meminimalisir kecemasan akan punahnya musik keroncong, yaitu dengan menawarkan langgam keroncong terjemahan. Yang unik, kata Kunardi, larik-larik dalam langgam keroncong yang satu ini bisa ditampilkan dalam bahasa Inggris.

Meskipun berbahasa Inggris namun dalam menembangkan keroncong ini tetap dengan gaya khas sebagaimana langgam itu dibawakan dalam bahasa Jawa. Prof Kunardi sendiri sempat membawakan langgam keroncong terjemahan itu dengan bahasa Inggris dan memperoleh apresiasi yang meriah dari hadirin.

Pembicara yang kedua adalah Prof Madya Dr Misran Rokimin duta dari Istitut ATMA UKM Malaysia. Misran mencoba menghadirkan romantisme antara dua anak Melayu yang mengguratkan nama lewat novel-novel mereka yaitu Isa Kamari dari Singapura dan Andrea Hirata dari Indonesia.

Isa Kamari populer lewat novelnya yang berjudul Memeluk Gerhana (2007) sedangkan Andrea Hirata mampu melangit berkat novel Laskar Pelangi (2008) yang fenomenal hingga kemudian disinemakan itu. Romantisme yang terlihat serempak dalam jejak karya mereka yang sama-sama banyak mengisahkan tentang kenangan masa kanak-kanak dan remaja.

Menurut Prof Misran, dua penulis muda ini mempunyai latar belakang akademis yang sama-sama baik. Isa Kamari adalah seorang arsitek sementara Andrea Hirata adalah sarjana lulusan Universitas Sorbonne Prancis. Misran sepakat dengan pendapat yang mengatakan bahwa untuk menjadi penulis yang baik diperlukan kemampuan intelektual yang baik pula.

Melayu British

Dr Aris Arif Mundayat dari PSSAT UGM menyambung acara dengan mengangkat wacana tentang “Fragmentasi Pemikiran dalam Dunia Melayu Modern”. Direktur PSSAT ini menyebut bahwa dunia Melayu pascakolonialisme sudah dalam kondisi yang tidak utuh lagi. Proses penjajahan yang berlangsung ratusan tahun, kata Aris Arif Mundayat, membuat rumpun Melayu terkotak-kotak menurut pembagian versi Erosentrisme yang membelah Melayu menjadi dua, yaitu Melayu British dan Melayu Nederlands Indische.

Melayu Britisih, yang berada di bawah kendali Inggris, meliputi wilayah geografis yang sekarang menjelma menjadi Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Sementara Indonesia, menjadi korban hegemoni Belanda yang menempatkannya ke dalam kubu Melayu Nederlands Indische (Melayu Hindia Belanda).

Dalam pemetaan Aris, Melayu Malaysia didominasi kekuatan Islam dan kelompok ini diberikan legitimasi yang lebih luas oleh pemerintah kolonial Inggris. Di sisi lain, menurut konsultan BKPBM dan www.MelayuOnline.com ini, gerakan buruh yang dikoordinir kaum komunis di Malaysia tidak mempunyai ruang sehingga pergerakan kaum ini tidak begitu terlihat dalam upaya melepaskan diri dari imperialisme Inggris.

Aris menambahkan, kondisi yang terjadi di Indonesia berbeda, Melayu Indonesia lebih majemuk dan multikultur. Komposisi Melayu Indonesia dihimpun oleh lebih banyak elemen yang beragam, baik kalangan Islam, penganut Komunis, maupun kaum Nasionalis.

Namun yang terjadi selanjutnya adalah kolonialis Belanda memberi keleluasaan lebih kepada kalangan Melayu Islam di Indonesia. Dogma Erosentrisme inilah, simpul Aris, yang kemudian menyebabkan citra Melayu dan Islam menjadi sangat lekat. Begitu identiknya, oleh beberapa kalangan, Islam dijadikan salah satu pra-syarat sebelum seseorang dapat dikategorikan sebagai orang Melayu.

Mahyudin Al Mudra SH MM yang tampil sebagai pembicara terakhir memantik forum menjadi semakin meriah dengan penyampaian kertas kerja “Pasang-Surut Hubungan Melayu-Jawa dalam Karya Sastra”. Senada dengan Aris, Mahyudin dalam uraiannya menyinggung pengaruh paradigma Erosentrisme terhadap kajian kemelayuan, khususnya yang berkaitan langsung dengan relasi Melayu dan Jawa.

“Melayu dan Jawa terpisah menjadi dua kubu yang seolah-olah saling bersaing dan sentimen sebagai akibat pengaruh paradigma Erosentrisme,” ujar Pemangku BKPBM ini. Padahal, berdasarkan catatan sejarah, Melayu dan Jawa sudah saling berhubungan sejak sebelum bangsa Eropa memasuki wilayah nusantara.

Mahyudin memberi bukti bahwa I La Galigo, epik sastra Bugis yang tertua (diperkirakan ditulis pada 200 Masehi) menyebutkan bahwa kata Melayu merupakan identitas kesatuan dari seluruh suku-suku bangsa di nusantara.

Lebih lanjut Mahyudin memaparkan pengakuan eksistensi Melayu oleh Jawa dan sebaliknya seperti yang terdapat dari karya-karya sastra. Sebagai acuan, Mahyudin mencontohkan Hikayat Hang Tuah sebagai hasil cipta yang terbesar dan paling legendaris dari pujangga Melayu. Bentuk pengakuan Hikayat Hang Tuah terhadap eksistensi Jawa, terlihat dalam komposisi pembabakan yang menyusun hikayat monumental setebal lebih dari 500 halaman itu.

“Pemaparan Hikayat Hang Tuah tentang Jawa, yang terhimpun dalam babak Episode Majapahit, menempati porsi kedua dengan 160 halaman, sedikit di bawah pengisahan mengenai Tanah Melayu yang berjumlah 187 halaman,” ungkap Mahyudin yang juga menjabat sebagai Pemimpin Umum www.melayuonline.com tersebut.

Kitab Sulalat

Selain Hikayat Hang Tuah, terdapat sumber Melayu lain yang juga memberi porsi luas untuk menerangkan hubungan kekerabatan yang terjalin antara Melayu dan Jawa di masa lampau, yaitu kitab Sulalat al-Salatin (Sedjarah Melaju).

“Sulalat al-Salatin banyak menyebut jalinan dan persebatian yang erat antara Majapahit dengan kerajaan-kerajaan Melayu, antara lain Melaka, Tanjungpura, Palembang, Indragiri, Jambi, Tungkal, Lingga, dan lain-lainnya,” papar Mahyudin yang sudah berkutat dengan penelusuran identitas Melayu sejak puluhan tahun silam.

Sebagai perimbangan, Mahyudin melanjutkan, Jawa pun mengamini kehadiran unsur Melayu dalam romantisme masa jayanya. Mahyudin memberi contoh dengan menyebut karya sastra yang ditulis oleh Sumahatmaka dengan tajuk Ki Ageng Drepayuda di mana dalam kitab itu menghadirkan nama Hang Tuah, yang sifat dan karakternya tidak jauh berbeda seperti yang terdapat di Hikayat Hang Tuah. Tidak hanya itu, nama Hang Tuah tersebut juga disyairkan dalam tembang Dandanggula.

Namun Mahyudin juga tidak memungkiri bahwa gesekan antara Melayu dan Jawa di masa silam sering pula terjadi, setidaknya dilihat dari segi kesusastraan. Dominasi sastra Jawa yang kemudian banyak yang diadopsi dalam versi Melayu disebut-sebut Mahyudin sebagai salah satu penyebab percikan konflik itu.

“Para pujangga Melayu kala itu merasa belum mampu melawan dominasi sastra Jawa secara frontal, maka kemudian disusunlah Hikayat Raja Pasai yang sebenarnya justru dibuat sebagai wujud perlawanan kaum sastrawan Melayu terhadap dominasi sastra Jawa,” jelas Mahyudin.

Bentuk penggugatan oleh para pujangga Melayu lewat Hikayat Raja Pasai itu, tambah Mahyudin, dirsampaikan dengan memuji-muji dan menyanjung keperkasaan Majapahit dalam bentuk sinical.

Disebutkan bahwa Majapahit telah berperang sebanyak 93 kali dan nyaris semuanya berakhir dengan kemenangan. Yang terjadi selanjutnya, berdasarkan kisah dalam hikayat, laskar Majapahit menawan ribuan puteri-puteri dari Kesultanan Pasai dan kemudian Jambi, beserta dengan harta rampasan yang melimpah untuk dibawa ke tanah Jawa.(ad)

Posting Terkait