Dijual dari Pasar ke Pasar, Sehari Bisa Laku 500 Kg

PEKANBARU (RiauInfo) – Saat menjamurnya kopi instant, kopi giling olahan Ujang masih mendapat tempat di lidah konsumen. “Di Pasar pagi Panam saja, sekitar 70 kg habis dijual dalam sehari,” ujar Ujang. Selain aroma kopi, menggilingnya secara langsung di depan pembeli adalah senjata ampuh Ujang menjual minuman berkafein tersebut di sejumlah pasar kota Pekanbaru.

Dengan membawa mesin penggiling serta bijih kopi yang telah digonseng, Ujang bergerilia dari pasar ke pasar. “Saya juga mengemas kopi ini dalam plastic dengan merek dagang sendiri. Tapi konsumen lebih suka membeli kopi yang digiling di depan mata mereka. Dengan begitu mereka yakin kopi itu hasil olahan aslinya,” terang Ujang.

Menurut Ujang, kebutuhan biji kopi mentah sebagai bahan baku dagangannya sekitar satu hingga lima ton dalam sepekan. Ujang mendapatkan kopi mentah dari daerah penghasil kopi seperti Sumatera Barat, Jambi, bahkan dari Lampung. Sedikitnya Ujang menggonseng 500 kg hingga satu ton bijih kopi mentah dalam sehari.

“Selain mutu bijih kopi, proses menggonseng dan menggilingnya akan menambah cita rasa kopi. Bahkan kopi akan menjadi lebih wangi jika kita tau kadar air saat terakhir menggonsengnya,” ungkap Ujang pada RiauInfo.

Setelah tahap menggonseng, bijih kopi dimasukkan dalam karung plastic lalu disimpan pada tempat sejuk dan kering. Selanjutnya kopi akan digiling seukuran 50 atau 70 mash, hingga bijih kopi menjadi bubuk sehalus tepung. Pada tahap ini, bubuk kopi tinggal dikemas dalam plastic untuk dijual pada pembeli.

“Saya lebih suka membeli kopi yang digiling di depan mata kita, jelas aslinya,’ kata seorang pembeli. Menurut Ujang, beberapa hotel ternama Pekanbaru telah menjadi langganan kopi olahannya. Selain itu, sejumlah warung kopi juga tetap membeli kopi pada bapak dua anak yang telah memulai profesi ini sekitar 20 tahun lalu.

“Saya sudah pernah membuka usah kopi ini di Jakarta , Jambi dan Palembang . Di Jakarta terkendala bahan baku yang jauh saya datangkan dari Sumbar. Sedang di Jambi dan Palembang , daya belinya kurang sesuai dengan bea produksi. Tapi di Pekanbaru, selain jarak kirim bahan baku relative dekat, daya beli konsumen sangat tinggi,” kata Ujang.(Surya)

Rizki: