Chand Parwez Servia: Perkembangan Film Indonesia Menurun

998 views

APFI1JAKARTA (Riauinfo) – Perkembangan perfilman Indonesia dalam tiga tahun terakhir ini terus menurun dan itu berdampak semakin kurang berminatnya masyarakat mendatangi bioskop untuk menyaksikan film film nasional.

“Karena itu para pengusaha perfilman yang tergabung dalam wadah asosiasi perusahaan film Indonesia harus bersatu memperbaiki kondisi perfilman itu. Bila terus dibiarkan, bisa jadi dampaknya akan lebih berbahaya. Nasib perfilman Indonesia bisa benar benar ditinggalkan penontonnya,” ujar Chand Parwez Servia kepada wartawan di Jakarta, kemarin.

Chand Parwez Servia sendiri adalah produser dari Kharisma Starvision yang bersama produser Odi Mulya Hidayat (Maxima) pekan lalu memotori berdirinya asosiasi perusahaan film Indonesia. Ketika APFI dideklarasikan di Hotel Mulya, Senayan, Jakarta, Senin lalu, perusahaan yang mendukung berdirinya APFI malah bertambah sehingga menjadi 7 perusahaan dengan hadirnya Falcon Pictures, Mahaka Pictures, Soraya intercine Film, Rafi film dan Mizan Pictures. Erick Tohir, produser Mahaka Pictures yang juga sibuk mengurusi klub bola di Liga Eropa dipercaya menjadi Pembina APFI.

Menurut Chand Parwez, dengan berjumlah 7 perusahaan film, APFI optimis bisa memperbaiki situasi perfilman Indonesia sekarang. Parwez menilai, menurunnya perkembangan perfilman Indonesia dalam 3 tahun terakhir, bukan saja karena jumlah bioskop yang terbatas, tetapi juga derasnya film asing dan tak sedikit juga film-film Indonesia yang disajikan ke masyarakat, kualitasnya asal jadi.

Bertolak dari kenyataan itu, Chand Parwez menegaskan para anggota APFI bertekad akan melahirkan film-film yang berkualitas dan mencerdaskan penonton. Langkah itu, yakin sekali bisa diambil para produser film anggota APFI karena satu sama lain anggota APFI akan bekerjasama dan saling mendukung.

“Saya juga sangat mendukung usaha usaha APFI bekerjasama ikut memperbaiki perkembangan perfilman nasional. Terus terang selama ini saya sangat prihatin dengan kondisi perfilman kita, karena banyaknya film asal jadi yang disajikan kepada penonton. Disamping tidak mencerdaskan, ternyata film-film asal jadi yang dipasarkan berpotensi merusak pola pikir generasi muda.” jelas Dede Yusuf, actor film yang juga anggota komisi X DPR dan kini dipercaya sebagai anggota kehormatan APFI.

Ketika ditanya kiatnya memajukan perkembangan perfilman Indonesia, Erick Tohir menjelaskan sudah memiliki sejumlah cara yang akan diterapkan perusahaan filmnya, yaitu MAHAKA Pictures. Menurut Erick perusahannya akan memproduksi film-film yang erat kaitannya dengan persoalan masyarakat banyak di Indonesia. Akting pemainnya disamping harus pilihan, begitu juga scenario dan sutradara yang akan menggarapnya harus benar benar orang yang ahli juga modalnya harus mencukupi.
“Yang penting MAHAKA pantang bikin bikil asal jadi. Seperti juga anggota APFI lainnya, mahaka ingin dikenal masyarakat sebagai perusahaan penghasil film-film yang enak ditonton dan sangat menuntun kearah pencerdasan penontonnya,” ujar erick menambahkan. (Ami Herman)

Posting Terkait