Bupati Ingatkan Masyarakat Akan Bahaya DBD

BENGKALIS (RiauInfo) – Bupati Bengkalis, H Syamsurizal, mengingatkan agar seluruh lapisan masyarakat di daerah ini untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit demam berdarah dangue (DBD). Hal ini disampaikan orang nomor satu di kabupaten berjuluk Negeri Junjungan ini, karena puncak penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes Eigypti ini semakin dekat. 

“Setiap tahunnya, masa puncak DBD ini terjadi pada bulan Maret-April serta Oktober-November. Karena saat ini sudah bulan Maret, maka kita harapkan seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan,” harap Syamsurizal kepada sejumlah wartawan usai mengikuti senam kesegaran jasmani, di lapangan Tugu Bengkalis, Jum’at (2/3) kemarin.

Terkait dengan itu, Syamsurizal mengatakan, sudah mengintruksikan pihak Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes dan KB) beserta seluruh jajarannya untuk melakukan langkah-langkah pencegahan berkembangnya penyakit DBD ini. Khususnya, melakukan sosialisasi secara kontinyu kepada masyarakat tentang arti pentiing kebersihan lingkungan rumah serta tindakan 3 M (menguras, menutup dan mengubur).

“Instruksi serupa juga sudah disampaikan kita kepada seluruh camat dan kepala desa/kelurahan. Bahkan bupati juga sudah meminta partisipasi aktif seluruh organisasi sosial kemasyarakatan, seperti Tim Penggerak PKK dan Dharmawanita Persatuan, untuk melakukan hal serupa,” tambahnya.

Selain itu, bupati juga meminta seluruh lapisan masyarakat di daerah ini untuk dapat mengetahui dan memahami resiko dari DBD, dimana resiko itu dapat diatasi dengan memutus mata rantai perkembangannya.

“Resiko berkembangnya DBD ini sebenarnya sangat kecil. Kalau masyarakat mau memperhatikan dan memiliki kepedulian untuk mencegahnya, maka tidak akan ada DBD,” pesan Syamsurizal seraya mengingatkan bahwa DBD tidak hanya menyerang anak-anak dan balita, tetapi juga orang dewasa.

Diingatkan Syamsurizal, umur nyamuk Aedes Eigypti ini sangat singkat, hanya dua pekan dengan daya terbang hanya 100 meter. Kemudian, jentik-jentik nyamuk penyebab DBD ini termasuk dalam kategori ‘elit’ serta tidak akan pernah dapat berkembang biak . di kawasan rawa-rawa atau digenang air bertanah.

“Jika masyarakat peduli, mengantisipasi perkembangan DBD ini, relatif lebih mudah,” terang Syamsurizal seraya mengingatkan bahwa jentik-jentik nyamuk itu berada di dalam atau sekitar rumah. Bukan di parit-parit kotor yang berlumpur.

Oleh sebab itu, tambah Syamsurizal, kalau ada masyarakat yang terserang penyakit DBD ini, dapat dipastikan di dalam rumah atau di sekitar kediamannya terdapat tempat-tempat yang menjadi medium tempat berkembang biaknya nyamuk tersebut.

“Karena saat ini intensitas turunnya hujan meningkat, kita harapkan seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas program 3 M tersebut. Agar mata rantai perkembangan terputus, mesti dilaksanakan seminggu sekali,” pintanya sembari mengingatkan bahwa mencegah lebih baik dari pada mengobati.

Rizki: