Budsenipar Riau Kurang Serius Promosikan Pariwisata

PEKANBARU (RiauInfo) — Pariwisata merupakan sektor yang memiliki potensi besar dalam menghasilkan pendapatan daerah apabila dikembangkan secara maksimal. Oleh karena itu, berbagai aspek dalam promosi kepariwisataan telah dikembangkan oleh pemerintah guna meningkatkan pendapatan pada sektor ini. 

Salah satunya adalah dengan penerapan teknologi informasi pariwisata (e-tourism). Namun, persoalan yang muncul saat ini adalah bahwa pemanfaatan e-tourism untuk promosi pariwisata di pelbagai daerah belum dijalankan secara optimal, tidak sebanding dengan biaya yang telah dikeluarkan.

Penelitian terbaru Tim Litbang Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), Yogyakarta, terhadap e-tourism di Provinsi Riau makin menegaskan bahwa promosi pariwisata yang dilakukan pemerintah daerah dengan menggunakan situs wisata, selain tidak dikelola secara maksimal juga memiliki desain visual dan desain struktur teknologi informasi yang berkualitas rendah.

Penelitian berjudul “Efektivitas E-Tourism dalam Mendukung Visi Riau 2020” itu menganalisis beberapa kategori, antara lain segi desain, isi, dan analisis statistik. Tiga unit analisis ini dapat memberikan gambaran yang memadai tentang bagaimana efektivitas situs yang dikelola oleh Budsenipar Riau guna mendukung Visi Riau 2020, yakni sebagai pusat kebudayaan Melayu dan pusat perekonomian di Asia Tenggara.

Dalam penelitian itu, disebutkan bahwa situs www.riautourism.com dan www.budsenipar-riau.com dari segi desain tampak tidak mampu menampilkan kekhasan budaya Melayu, misalnya melalui simbol-simbol kemelayuan.

Penelitian yang didukung dengan data statistik dari www.alexa.com dan www.statbrain.com itu, juga menunjukkan bahwa minat pembaca terhadap kedua situs berplat merah tersebut masih sangat rendah. Hal ini bisa dilihat dari peringkat situs www.riautourism.com yang, menurut penelitian BKPBM ini, menduduki posisi 2.849.458 dengan hanya 221 kunjungan per hari.

Sedangkan pada situs www.budsenipar-riau.com, sejak diluncurkan pada bulan Desember 2006 hanya tercatat 12 kunjungan per hari, sebuah kunjungan yang boleh dikatakan gagal menjalankan misinya sebagai media informasi wisata. Bahkan sejak bulan November 2008, situs resmi Dinas Kebudayaan, Seni, dan Pariwisata Pemprov Riau tersebut sudah tidak bisa diakses lagi, alias hilang dari peredaran dunia maya tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada masyarakat.

Parahnya lagi, rubrik berita yang ada tidak di-update secara berkala, sehingga dinamika pariwisata di Provinsi Riau tidak terlihat. Selain itu, penayangan foto-foto obyek wisata yang cenderung asal-asalan membuat minat calon wisatawan kurang tertarik untuk mengunjungi.

Data penelitian BKPBM menunjukkan bahwa perhatian masyarakat masih sangat minim terhadap kedua situs wisata tersebut. Padahal, jika ingin mempromosikan Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu ke seluruh dunia, media internet merupakan salah satu media promosi utama.

Di samping itu, minimnya informasi berbahasa Inggris juga membuat kedua situs itu tidak dilirik sama sekali oleh pembaca luar negeri. Padahal, menurut Badan Pusat Statistik (BPS), 67 persen wisatawan mancanegara mencari info tentang obyek-obyek wisata melalui internet.

Dengan penelitian BKPBM ini, menjadi jelas bahwa promosi seni, budaya, dan pariwisata di Provinsi Riau masih jauh dari yang diharapkan, sebab situs resmi yang seharusnya mempromosikan kewibawaan tamadun Melayu tersebut tidak digarap secara serius. Padahal, anggaran yang digunakan untuk membuat situs tersebut sangat besar.

Menurut Mahyudin Al Mudra, SH, MM, hasil penelitian BKPBM ini memiliki pengaruh yang luas bagi keberadaan e-tourism ke depan. “Bagaimana Pemprov Riau akan mewujudkan Visi Riau 2020 sebagai pusat perekonomian dan kebudayaan Melayu di kawasan Asia Tenggara, apabila perangkat pendukungnya masih belum dikelola dengan baik?” ujar Pendiri dan Pemangku BKPBM tersebut.(ad)

 

Rizki: