Eksistensi Prodi Sejarah Terancam, Dosen Unri Ingatkan Bahaya Kehilangan Identitas Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 19:02:00 WIB
Piki S. Pernantah, Dosen Sejarah Universitas Riau

PEKANBARU (RiauInfo) – Kota Pekanbaru menjadi saksi munculnya kekhawatiran akademisi terhadap wacana penyesuaian Program Studi (Prodi) yang kini lebih condong pada kebutuhan industri. Piki S. Pernantah, seorang dosen Sejarah dari Universitas Riau (Unri), menekankan bahwa peristiwa historis merupakan memori kolektif yang wajib diwariskan untuk menjaga identitas dan nilai-nilai masyarakat dalam menatap masa depan.

Menurut Piki, sejarah bukan sekadar deretan angka tahun atau nama tokoh, melainkan fondasi dasar yang membentuk cara pandang masyarakat terhadap dirinya dan daerahnya. Ia memandang bahwa di tengah arus modernisasi, posisi sejarah justru harus dipertegas dalam kerangka filosofis Pendidikan Nasional agar tidak tergerus oleh kepentingan pasar semata. 

Filosofi Pendidikan Nasional 

Dosen Universitas Riau tersebut mengingatkan bahwa meminggirkan sejarah sama saja dengan memudarkan identitas bangsa secara perlahan. Indonesia sebagai bangsa besar yang dibangun oleh para pejuang memiliki narasi panjang yang harus tetap diajarkan kepada generasi mendatang agar mereka tidak kehilangan tuntunan arah. 

Wacana penghapusan atau pengurangan porsi prodi sejarah dinilai perlu direfleksikan kembali agar tetap sejalan dengan tujuan utama pendidikan nasional. Pendidikan sejatinya bertujuan untuk mendidik manusia agar beriman, berkarakter, berakhlak mulia, dan cerdas secara utuh, bukan hanya sekadar mencetak tenaga kerja. 

Keseimbangan Karakter dan Kompetensi 

Piki S. Pernantah menjelaskan bahwa yang sebenarnya perlu diperbarui adalah orientasi pendidikan agar lebih responsif terhadap perkembangan zaman. Namun, pembaruan ini tidak boleh mengorbankan pembentukan karakter demi mengejar kompetensi profesional semata bagi para calon lulusan.

Keseimbangan antara pembentukan jati diri dan keahlian teknis menjadi faktor kunci bagi kualitas lulusan perguruan tinggi saat ini. Pembelajaran sejarah berperan sebagai ruang pembentukan kesadaran historis yang tidak bisa digantikan oleh disiplin ilmu praktis lainnya. 

Sejarah sebagai Medium Refleksi 

Lebih lanjut, wartawan Riauinfo melaporkan pandangan Piki bahwa sejarah berfungsi sebagai medium refleksi untuk memahami asal-usul dan tujuan bangsa ke depan. Melalui sejarah, setiap individu diajak untuk menyadari jati diri mereka sebagai bagian integral dari bangsa Indonesia yang berdaulat.

Reduksi terhadap prodi sejarah dianggap sebagai penyempitan makna pendidikan dari pembentukan manusia seutuhnya menjadi sekadar produksi sumber daya ekonomi. Hal ini dikhawatirkan akan menciptakan generasi yang terasing dari akar budayanya sendiri di tengah persaingan global yang ketat. 

Risiko Kehilangan Memori Kolektif 

Piki menegaskan bahwa bangsa yang kehilangan sejarahnya akan kehilangan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan penting di masa depan. Tanpa memori kolektif, arah pembangunan daerah maupun nasional akan kehilangan makna dan pijakan filosofis yang kuat.

Oleh karena itu, keberadaan prodi sejarah di Universitas di Provinsi Riau dan Indonesia pada umumnya harus tetap didukung sebagai penjaga gawang nilai-nilai luhur. Sejarah adalah kompas yang memastikan bangsa ini tetap berjalan di jalur yang benar sesuai dengan cita-cita para pendiri negara.

Hingga saat ini, diskusi mengenai relevansi prodi ilmu humaniora di tingkat universitas masih terus bergulir di kalangan pendidik dan pembuat kebijakan. Harapannya, kebijakan pendidikan tinggi tetap memprioritaskan sejarah sebagai pilar utama dalam membangun karakter bangsa yang kokoh dan tidak mudah goyah oleh perubahan zaman.

 

Terkini