Ditengah Wacana Penyesuaian Prodi, Akademisi Sejarah UNRI Pertegas Posisi Sejarah

Kamis, 30 April 2026 | 18:52:00 WIB
Piki S. Pernantah, Dosen Sejarah Universitas Riau

"Peristiwa historis adalah memori kolektif yg mesti diingat dan diwariskan sehingga akan memberi makna pada masa lalu, membentuk identitas dan nilai, serta mengubah cara pandang masyarakat terhadap dirinya dan daerahnya." – ujar Piki S. Pernantah, Dosen Sejarah di Universitas Riau. 

Di tengah wacana penyesuaian prodi yang berorientasi pada kebutuhan industri, posisi sejarah justru perlu ditegaskan dalam kerangka filosofis Pendidikan Nasional. Beliau memandang, “seharusnya kita semua  sadar bahwa meminggirkan sejarah dapat berarti memudarkan identitas bangsa. Indonesia adalah bangsa yang besar dan bangsa para pejuang, akankah sejarah ini harus dihilangkan untuk generasi mendatang? Kehilangan sejarah artinya kehilangan tuntunan arah bangsa di masa depan.”

Wacana ini harus direfleksikan lagi agar sejalan dengan Tujuan Pendidikan Nasional, bahwasanya Pendidikan itu sejatinya mendidik manusia agar berakhlak mulia, beriman, berkarakter, dan cerdas, bukan sekedar memenuhi kebutuhan pasar, sehingga membentuk manusia Indonesia yang sadar akan jati dirinya sebagai bagian dari bangsanya. Yang mesti diperbarui adalah orientasi pendidikan agar lebih responsif terhadap kebutuhan zaman, sehingga keseimbangan antara pembentukan karakter dan kompetensi professional yang dibutuhkan saat ini menjadi faktor kunci lulusan. Hal ini didukung juga oleh tujuan esensial dari Pembelajaran Sejarah sebagai ruang pembentukan kesadaran historis. Dimana sejarah bukan hanya sekadar pengetahuan masa lalu, melainkan medium refleksi bagi semua untuk memahami siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana arah bangsa ini akan dibawa. Bukankah seharusnya demikian?

Oleh karena itu, meminggirkan prodi sejarah sama halnya dengan mereduksi Tujuan Pendidikan itu sendiri, dari pembentukan manusia seutuhnya menjadi sekadar memproduksi sumber daya yang dibutuhkan industry atau aktivitas ekonomi. Padahal, bangsa yang kehilangan sejarahnya bukan hanya kehilangan memori kolektif, melainkan juga kehilangan arah, makna, dan kebijaksanaan dalam menapaki masa depan bangsa dan daerahnya.

Terkini