Tausiyah Ramadhan di Masjid Al-Jihad: Ustadz Zulheri Ajak Jamaah Pekanbaru Miliki Hati Lembut di Tengah Kerasnya Dunia

Selasa, 03 Maret 2026 | 21:52:00 WIB
Suasana malam ramadhan di Masjid Al-Jihad, Jl. Melur, Pekanbaru

PEKANBARU (RiauInfo) – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Al-Jihad, Jalan Melur, Kota Pekanbaru, pada pelaksanaan sholat Tarawih malam ke-14 Ramadhan 1447 Hijriah, Selasa (3/3/2026). Jamaah masih antusias memadati masjid untuk menjalankan rangkaian ibadah di malam ke-14 Ramadhan, yang kali ini menyoroti pentingnya menjaga kelembutan hati di tengah dinamika kehidupan modern yang kian keras.

Ustadz Zulheri, S.Sos.I, M.Pd.I, hadir sebagai penceramah yang menyampaikan tausiyah mendalam bertajuk "Menjadi Pribadi Lembut di Tengah Kerasnya Kehidupan Dunia". Dalam ceramahnya, ia menekankan bahwa inti dari kualitas hidup seorang manusia sangat bergantung pada kondisi spiritualitas dan kesehatan hatinya.

"Di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuh dan kehidupannya, namun jika ia rusak, maka rusaklah semuanya. Itulah yang dinamakan hati," ujar Ustadz Zulheri mengutip hadis Rasulullah SAW di hadapan para jamaah yang menyimak dengan saksama.

*Filosofi Hati dan Lidah*

Untuk memperkuat pesan tersebut, penceramah mengisahkan hikmah dari tokoh bijak Lukmanulhakim. Dikisahkan, Lukmanulhakim pernah diminta majikannya menyajikan bagian hewan yang paling enak, lalu ia menyuguhkan lidah dan hati sapi. Namun, saat diminta menyajikan bagian yang paling tidak enak, ia tetap memberikan hidangan yang sama.

Keheranan sang majikan pun terjawab dengan penjelasan filosofis bahwa hati dan lidah adalah penentu derajat manusia. Jika keduanya digunakan untuk kebaikan, maka akan membawa kemuliaan yang luar biasa, namun jika digunakan untuk keburukan, keduanya akan menjadi sumber malapetaka yang paling buruk bagi pemiliknya.

Ustadz Zulheri juga menyoroti fenomena sosial saat ini, di mana manusia sering terjebak dalam tekanan hidup yang tinggi. Banyak orang beranggapan bahwa bersikap keras dan agresif adalah cara untuk bertahan. "Padahal menurut pandangan Islam, kelembutan justru merupakan modal utama dan kunci keberhasilan bagi kita," tambahnya.

Meneladani Kelembutan Rasulullah SAW

Dalam narasinya yang menyentuh sisi kemanusiaan, Ustadz Zulheri memaparkan bagaimana Rasulullah SAW menghadapi ujian berat saat berdakwah. Beliau dihina, dicaci, hingga diusir dari kota kelahirannya, Mekkah. Namun, Rasulullah tidak membalas dengan kebencian, melainkan memilih untuk berhijrah ke Madinah dengan hati yang tetap lapang.

Kronologi kesabaran Nabi Muhammad SAW berlanjut saat beliau mengunjungi Thaif. Di sana, beliau justru dilempari batu hingga terluka, namun alih-alih mengutuk, beliau justru mendoakan penduduk Thaif agar mendapatkan hidayah. Keteladanan inilah yang menurut penceramah harus menjadi refleksi bagi umat Islam di masa kini.

Penceramah kemudian memberikan empat langkah praktis untuk menjadi pribadi yang lembut. 

1. Pertama, menjaga ucapan agar selalu mengeluarkan kata-kata yang baik.

2. Kedua, memiliki kelembutan dalam bersikap. 

3. Ketiga, membina kelembutan di dalam lingkungan keluarga sebagai fondasi awal karakter.

4. Keempat yang sangat relevan dengan kondisi saat ini adalah kelembutan dalam bermedia sosial. 

Di tengah kerasnya arus informasi dan komentar di dunia maya, menjaga lisan dan jempol agar tetap beretika menjadi bentuk jihad tersendiri dalam menjaga kedamaian hati dan keselamatan di akhirat.

"Jika kita selalu memilih jalan kekerasan dalam menyikapi hidup, maka kita akan terus mendapati kehidupan yang terasa keras. Sebaliknya, Allah sangat mencintai kelembutan dalam segala urusan," pesan Ustadz Zulheri menutup tausiyahnya malam itu.

Ibadah malam tersebut dipandu oleh Syafina selaku pembawa acara (MC), sementara sesi Fastabiqul Khairat yang dilaksanakan sebelum sholat Tarawih dipimpin oleh Drs. Wan Amhar. Ia mengajak jemaah untuk memenuhi kebutuhan masjid, seperti folding-gate untuk MDA dan penyelesaian Al-Jihad Mart. 

Rangkaian ibadah dilanjutkan dengan sholat Tarawih berjamaah. Bertindak sebagai Imam adalah M. Sabirin, S.Ag, yang memimpin sholat dengan bacaan yang jelas dan menyentuh hati. Sementara itu, posisi Bilal Tarawih diisi oleh Wan Darel yang memandu selawat dengan merdu dan doa di sela-sela rakaat.

 

Tags

Terkini