Akan Tetap Tebarkan Pesona pada Pelancong

742 views

news603YUSRIZAL memang terkesan agak pasrah. Sebab sehari setelah gempa itu dia sudah mencoba memperbaiki bandul yang patah itu. Namun tetap tidak bisa menggerakkan jarim jamnya. Ini ternyata disebabkan ada lagi beberapa perangkat lainnya mengalami kerusakan akibat gempa tersebut. Untuk memperbaikinya perlu mekanik yang berpengalaman.

“Kami akan berusaha terus memperbaikinya, sampai jarum Jam Gadang ini kembali bergerak,” ujarnya. Dia memang sudah bertekad tidak akan membiarkan Jam Gadang berhenti berdetak. Apapun akan dilakukannya, termasuk minta dukungan dari Pemko Bukittinggi untuk mendatangkan para ahli jam.

Gempa yang mengoncang Sumbar selain membuat Jam Gadang itu berhenti berdetak, menaranya yang setinggi 26 meter itu juga mengalami kemiringan. Selain itu beberapa bagian bangunannya mengalami retak-retak, dan salah satu jendela kaca di bagian atas pecah. Serpihan kacanya kini berserakan di sekitar taman di bawah Jam Gadang itu.

Berdasarkan data yang diperoleh Suara Karya, Jam Gadang yang berhadapan langsung dengan Pasar Atas Bukittinggi ini dibangun oleh pemerintah Belanda pada tahun 1926. Konon pembangunan jam tersebut merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Sekretaris Kota Bukittinggi.

Menurut masyarakat setempat, bangunan Jam Gadang itu sendiri mulanya dibangun dengan menggunakan semen putih bercampur telor. Dengan posisi berada di daratan paling tinggi di Bukittinggi, Jam Gadang itu bisa dilihat dari kejauhan. Namun akhir-akhir ini karena pesatnya pembangunan gedung pertokoan, Jam Gadang itu jadi mulai sulit dilihat dari kejauhan.

Jam Gadang yang berada di posisi atas monumen itu sendiri terdiri dari 4 unit yang menghadap barat, timur, selatan dan utara. Diameter jam 80 sentimeter. Jarum jam digerakkan secara manual oleh mesin buatan pabrik jam Brixlion, Inggris. Namun mendapat sentuhan khusus dari ahli jam dari Jerman bernama Recklinghausen.

Konon untuk mesin jam ini hanya ada dua di dunia, yakni Jam Gadang di Bukittinggi dan Big Ben di London, Inggris, sehingga tidak salah jika disebut sebagai monumen “Kembar”. Karena memiliki nilai historis yang panjang, maka Pemko Bukittinggi terus melakukan perawatan terhadap Gam Gadang ini.(ad)

Posting Terkait