AJI YASLIS SUTAN BAINO Berburu Barang Antik Hingga ke Pulau Jawa

3488 views

BERAWAL dari hobi mengoleksi barang-barang antik, Aji Yarlis Sutan Baino (73) membuka usahanya di Pekanbaru yang beralamat di Jalan Sekolah/kayangan nomor 155 E, Kecamatan Rumbai Pesisir, Pekanbaru.


Usaha mengoleksi barang antik ini dimulai pada tahun 1972, berkeliling dan menjelajah pulau Sumatra dan Jawa yang yarlis lakukan hanya untuk mencari dan membeli barang antik dan barang-barang peninggalan sejarah yang bernilai tinggi.

Usaha menjual barang antik ini sudah berjalan lebih kurang lima tahun dipekanbaru. Barang antic yang dijualnya mulai dari keramik Cina, guci-guci Cina, senapang peninggalan zaman Belanda (Bedel Steinga), lampu gantung/ lampu rantai, alat musik tradisional (gong, gitar batak, rebab dari Sumatra Barat), gramophone dengan ukuran besar dan kecil, pipa cengkrong, tubuk sirih, kain tradisional dari Timor-Timur, meja rias, uang koin dari beberapa Negara (Cina, Thailand, Singapura, Malaysia, Indonesia), hingga uang kertas pada zaman Soekarno Hatta tahun 1964 senilai Rp100, Rp1000, dan Rp5000.

Uang yang bergambar Soekarno ini memiliki keunikan tersendiri, yang mana uang ini bias menggulung dengan sendiri jika diletakkan diatas telapak tangan yang berdarah panas.

Menurut yarlis tidak mudah untuk mendapatkan barang-barang antic ini, karena tidak mudah untuk mencari orang yang dapat bertukar dan bertransaksi jual beli dengan barang-barang yang dimilikinya. Menurutnya menjadi kolektor barang-barang antic dan bersejarah ini memiliki kepuasan tersendiri. “Sekarang susah dicari barang antik karena kebanyakan sudah dibeli dari orang asing terus dibawa mereka ke luar negeri,” ujarnya,

Perjalanannya mencari barang-barang antik dan bersejarah itu bermula dari perkenalannya dengan orang pribumi dan dengan orang asing yang singgah serta menetap di sebuah wilayah yang dikunjungi mereka di Indonesia. Dengan banyaknya kenal dan berkomunikasi baik dengan orang-orang asing,” dari sinilah.saya dapatkan barang-barang antic, seperti keramik Cina, guci Cina dan koin-koin ini,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, orang-orang pribumi pun tak lepas dari hubungan komunikasi yang terjalin. “Dari orang-orang kita juga ada, dari mereka kita berhubungan terus mencari barang-barang antic untuk dapat dibeli dan dibawa kesini,” ungkapnya.

Barang-barang antik dan bersejarah itu menjadi perburuan kolektor asing, dan orang dalam negeri pun ada yang berminat untuk membeli dan mengoleksi barang-barang antik yang dijualnya.

Dari hasil babrang antic yang dijualnya, kemudian ia mencari lagi barang antic lain yang bernilai tinggi.Omset yang didapat dari penjualan barang antik tersebut dalam sebulan, yarlis mengaku tidak tentu,” karena Barang antik ini lakunya kan tidak tentu, jadi tergantung pembeli yang berminat pada barang antic inilah” terangnya.(riya)

 

Posting Terkait